Cara Mengembalikan File Yang Telah Tertimpa Pada Windows

Jika Anda pernah mengedit dokumen, menghapus seluruh paragraf dan menyimpannya secara tidak sengaja, Anda pastinya merasa tertolong jika Anda mengetahui bagaimana cara mengembalikan file tersebut pada saat file tersebut belum tertimpa. Versi terbaru dari sistem operasi Windows menyediakan fitur agar Anda bisa kembali pada pengeditan dokumen sebelumnya, dan mempelajari bagaimana cara mengembalikan dokumen yang sangat menyita waktu Anda dalam pembuatannya. Dibawah ini akan dijelaskan bagaimana caranya.

Instruksi

Windows 7

  1. Bukalah Computer. Klik tombol Start>Computer.
  2. Carilah folder yang terlampir. Pergilah ke folder yang dulunya tersimpan file atau folder yang ingin Anda kembalikan, klik kanan pada folder tersebut, dan lalu klik Restore previous versions. Jika folder tersebut berada pada bagian teratasi hierarki partisi drive, contohnya C:, klik kanan pada partisi tersebut, dan lalu klik Restore previous versions. Anda akan melihat daftar versi terdahulu yang tersedia dari file atau folder yang tertimpa. Daftar ini termasuk file yang tersimpan pada backup, sama seperti restore points, jika keduanya tersedia. Catatan: untuk mengembalikan versi terdahulu dari sebuah file atau folder memiliki bagian pada library, klik kanan pada file atau folder lokasi yang menyimpan file tersebut, bukan pada library. Contohnya, untuk mengembalikan versi terdahulu dari sebuah gambar yang termasuk dalam library Picture, tetapi tersimpan pada folder My Pictures, klik kanan pada folder My Pictures, dan lalu klik Restore previous versions.
  3. Pilihlah versi terdahulu yang ingin Anda kembalikan. Klik kanan pada versi terdahulu dari folder yang mengandung file atau folder yang ingin Anda kembalikan. Contohnya, jika sebuah file dihapus hari ini, pilihlah versi folder kemarin, yang seharusnya mengandung file tersebut.
  4. Pindahkan file target. Seret file atau folder yang ingin Anda kembalikan ke lokasi lainnya, seperti desktop Anda, ataupun folder lain. Versi file atau folder disimpan pada lokasi yang Anda pilih.

Windows Vista (Beberapa Versi)

  1. Klik pada ikon Start, ketikkan Explorer pada kotak Start Search yang akan muncul. Klik pada Windows Explorer, dibawah Program pada bagian atas menu Start.
  2. Carilah file versi terbaru. Pergilah ke folder yang megandung versi terbaru file yang ingin Anda kembalikan. Jika folder Documents terbuka dan Anda ingin pergi ke folder Pictures, lihatlah pada kolom kiri Windows Explorer, dan gulir kolom tersebut untuk mencari folder.
  3. Klik kanan pada file yang ingin Anda kembalikan. Dan lalu klik Properties, dan klik tab Previous Versions. Perhatikan: Disini, Anda jangan langsung mengklik Restore, karena hal itu akan menimpa versi file yang telah ada dan Anda akan kehilangan semua data yang yang telah ada semenjak Anda menimpa file versi terdahulu. Klik Restore jika Anda hanya ingin tetap mendapatkan versi terdahulu file tersebut. Klik Copy jika Anda ingin mengembalikan versi terdahulu file tanpa menimpa versi terbaru. Windows akan bertanya kepada Anda, dimanakah Anda akan menyimpan file tersebut. Anda juga bias menyimpan file tersebut pada desktop Anda.

 

Peringatan

Beberapa versi Windows Vista tidak memiliki fitur restore version. Hanya Windows Vist Ultimate dan Windows Vista Business yang memiliki fitur tersebut.

Metode 1 : Untuk Windows 8

  1.  Aktifkan History file. Untuk dapat memuat versi dari file atau folder, Anda harus mengaktifkan History file terlebih dahulu, yang mengharuskan anda memiliki hard drive eksternal atau akses ke folder jaringan. Windows akan menggunakannya untuk menyimpan versi file Anda dan memungkinkan dokumen untuk pulih dari penyimpanan yang buruk dan dokumen yang tertimpa.
  • Buka Control Panel. Anda dapat menekan tombol Windows + X dan pilih Control Panel dari menu, atau ketik “Control Panel” sementara pada halaman Start dan pilih dari hasil pencarian.
  • Klik pada menu System and Security link. Menu Ini biasanya terdapat pada pilihan pertama di jendela Control Panel.
  • Klik File History link. Dalam daftar pilihan, Anda akan melihat File History. Klik link untuk membuka layar konfigurasi.
  • Aktifkan File History. Jika hard drive eksternal Anda terpasang tombol Turn On akan tersedia untuk bisa di klik. Jika Anda ingin mengubah lokasi ke drive jaringan, klik tombol Select Drive di menu sebelah kiri dan kemudian klik “Add network location”. “Add network location”.
  • Pilih apakah Anda ingin HomeGroup untuk dapat terhubung ke drive atau tidak. Jika Anda memiliki beberapa komputer di HomeGroup Anda dan Anda ingin mereka semua menyimpan backup mereka ke lokasi pusat, klik Yes, jika tidak apa-apa untuk klik No.
  1.  Mengkonfirgurasi pengaturan advanced File History dengan cara klik link “Advanced settings” dibagian kiri menu.
  • Ubah dan sesuaikan berapa lama file akan digunakan dengan menggunkanan menu “Keep saved versions”. Defaultnya adalah “Forever”.
  • Ubah seberapa sering salinan disimpan dengan menggunakan tombol menu “Save copies of files”. Defaultnya adalah “Every Hour”.
  1.  Restore file yang dihapus atau ditimpa Arahkan ke folder di mana file atau folder telah dihapus. Pastikan bahwa tab Home dipilih.
  • Klik tombol File History. Tombol ini terletak di bagian Terbuka tab Home.
  • Gulir ke versi yang ingin Anda restore . Setelah Anda membuka jendela File History, Anda akan diberikan snapshot dari folder itu. Gunakan tombol panah di bagian bawah jendela untuk menggulir kembali ke versi sebelumnya dari folder sampai Anda menemukan file yang ingin Anda restore.
  • Klik tombol Restore berwarna biru. Tombol ini terletak di antara panah navigasi. Mengklik tombol ini akan mengembalikan file atau folder yang dipilih ke lokasi semula.
  1.  Restore versi lama dari file. Jika Anda tidak sengaja menghapus sekelompok teks yang Anda sekarang tidak bisa kembali, Anda dapat mengembalikan versi lama dari file menggunakan File History.
  • Pilih file yang ingin Anda putar kembali.
  • Klik tombol File History di tab Home.
  • Gulir kembali melalui versi, periksa isi file. Untuk dokumen, File History akan menampilkan isi dari file tersebut sehingga Anda dapat dengan mudah melihat versi yang Anda ingin anda restore
  • Klik tombol Restore. Anda akan ditanya apakah Anda ingin mengganti file yang saat ini tersedia.

Methode 2 : Untuk Windows 7

Arahkan ke folder yang digunakan untuk menampung file atau folder yang Anda ingin merestore. Klik kanan dan kemudian klik pada menu “Restore previous versions “. Jika folder berada di atas drive, misalnya C: \, klik kanan drive dan kemudian klik ” Restore previous versions”.

  • Anda akan melihat daftar versi sebelumnya tersedia dari file atau folder. Daftar ini akan menyertakan file disimpan pada cadangan (jika Anda menggunakan Windows Backup untuk membuat cadangan file Anda) serta restore point, jika kedua jenis file tersebut tersedia.
  • Restore point yang sering diambil sehari-sehari,  jadi jika Anda mengubah file beberapa kali setelah titik pemulihan gambar diambil, perubahan tersebut tidak akan tersedia dalam menu ” Restore previous versions “.
  • Untuk mengembalikan versi sebelumnya dari file atau folder yang merupakan bagian dari perpustakaan, klik kanan file atau folder di lokasi menyimpan, bukan di perpustakaan. Misalnya, untuk mengembalikan versi gambar yang disertakan dalam Gambar perpustakaan tetapi disimpan dalam “My Pictures” folder, klik kanan “My Pictures” folder dan kemudian klik pada menu ” Restore previous versions “.
  • Pilih versi untuk mengembalikan. Anda akan melihat daftar semua versi sebelumnya tersedia yang dapat Anda kembalikan. Pilih salah satu yang Anda inginkan dan klik tombol Restore untuk kembali ke lokasi semula.
  • Anda dapat mengklik tombol Open untuk melihat file sebelum mengembalikannya.
  • Pindahkan file target. Tarik file atau folder yang ingin Anda restore ke lokasi lain, seperti desktop atau folder lain. Versi dari file atau folder yang disimpan ke lokasi yang Anda pilih.

MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEBAGAI SARANA PRAKTIKUM / EKSPERIMEN

Sesuai dengan anjuran Kurikulum yang sekarang dianut oleh dunia pendidikan di negara kita, bahwasanya diharapkan peserta didik bukan lagi sebagai objek pembelajaran tetapi juga sebagai subjek pembelajaran, maka keberadaan praktikum sebagai metode pembelajaran bidang studi sains / IPA merupakan suatu keharusan. Melalui praktikum peserta didik belajar menemukan konsep sendiri bersama-sama dengan teman sekerjanya dalam kelompok, sekaligus membantu pemahaman konsep yang diajarkan di kelas.

Kekurangan atau tidak tersedianya berbagai bahan dan alat kimia seringkali menjadi kendala tidak berlangsungnya suatu topik praktikum. Menghadapi kendala seperti ini, sudah saatnya bagi kita yang berkecimpung di dunia pendidikan terutama mereka yang terkait dalam proses pembelajaran, yaitu guru dan peserta didik memikirkan jalan keluarnya. Seperti diketahui, bahwa “dunia kita adalah dunia kimia”, artinya segala yang ada di dunia ini tidak terlepas dari aspek kimiawi. Hal ini memberikan inspirasi bagi kita bahwa lingkungan sekitar sebenarnya merupakan sarana untuk belajar kimia dan untuk menunjukkan fenomena-fenomena kimiawi seperti yang tertulis dalam materi pelajaran kimia yang diajarkan di kelas.

Berikut ini akan diberikan contoh berbagai bahan kimia yang dengan mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kita tidak tahu atau tidak menyadari bahwa bahan tersebut dapat digunakan sebagai bahan praktikum sederhana.

  1. Struktur Atom dan Ikatan Kimia

Untuk membuktikan bahwa dalam atom terdapat partikel penyusun atom yang dapat bergerak, yaitu elektron dapat dilakukan percobaan sederhana sbb :

Kertas adalah contoh sebuah materi yang terdiri dari atom-atom. Tiap atom memiliki inti atom yang bermuatan positif dan elektron yang mengelilinginya yang bermuatan negatif. Dengan menggosokkan balon ke rambut, maka elektron pada rambut akan terlepas, sehingga menyebabkan balon terkena pengaruh muatan negatif elektron. Ketika balon yang “bermuatan” negatif didekatkan pada potongan kertas, maka muatan positif kertas akan tertarik balon. Gaya tarik antara muatan negatif dan positif ini mampu mengatasi gravitasi bumi sehingga potongan kertas melompat ke atas dan menempel pada balon.

Percobaan ini sekaligus dapat menunjukkan pada kita bahwa yang dapat bergerak dan berikatan dengan atom lain adalah elektron, bukan proton maupun neutron.

  1. Keberadaan Molekul

Untuk mengetahui bahwa air terdiri dari molekul-molekul air, maka dapat dilakukan percobaan sederhana sbb :

Letakkan 2 tusuk gigi secara berhadapan di atas permukaan air dalam sebuah mangkuk. Celupkan tusuk gigi yang lain dalam larutan sabun, lalu celupkan diantara dua tusuk gigi yang berhadapan tadi. Tusuk gigi yang ujungnya dicelupkan ke dalam cairan sabun mampu mematahkan gaya tarik-menarik antar molekul air, sehingga molekul-molekul air satu sama lain saling menjauh. Gerakan saling menjauh ini akibat tali ikatan antar molekul air putus. Percobaan ini membuktikan bahwa meskipun molekul tidak dapat dilihat tetapi keberadaannya dapat diamati dari gejala yang ditimbulkan.

  1. Laju Reaksi

Untuk menunjukkan factor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi, yang meliputi konsentrasi, suhu, luas permukaan, dan katalisator, maka dapat dilakukan percobaan-percobaan sbb :

  1. Konsentrasi : mereaksikan asam cuka dengan soda kue, cangkang telur dengan asam cuka, dimana konsentrasi asam cuka divariasi.
  2. Suhu : mereaksikan garam inggris dengan ammonia, dimana garam inggris dipanas-kan pada berbagai suhu.
  3. Luas permukaan : mereaksikan cangkang telur yang dihancurkan dan utuh dengan asam cuka.
  4. Katalisator : menyalakan gula batu dengan bantuan  abu gosok/abu rokok sebagai katalisator.
  1. Titrasi Asam-Basa (Asidi – Alkalimetri)

Untuk melakukan titrasi asam-basa, terkadang kita tidak memilii indikator pp, maka dapat dilakukan dengan mengunakan indikator alami, seperti daun kubis ungu, rhoeo discolor, kunyit, secang, dsbnya. Indikator ini (terutama daun kubis ungu) memberikan perubahan warna yang tegas ketika titik akhir titrasi tercapai, sehingga akan memberikan akurasi data yang sama ketika menggunakan indikator pp. Peserta didik dapat melakukan titrasi alkali-metri, yaitu menentukan kadar asam cuka di pasaran dengan pentiter NaOH.

  1. Tekanan Osmosis

Untuk mengetahui terjadinya tekanan osmosis pada materi sifat koligatif larutan, maka dapat dilakukan percobaan sbb :

Sediakan dua gelas, gelas yang satu diisi air sedangkan yang satunya diisi air garam. Masukkan ke dalam kedua gelas wortel yang masih segar dengan ukuran sama. Amati yang terjadi setelah 24 jam.

  1. Penurunan Titik Beku

Adanya zat terlarut yang non volatil menyebabkan larutan mengalami penurunan titik beku, hal ini dapat ditunjukkan dengan cara meletakkan es batu dalam kaleng lalu menambahkan sedikit air dan garam. Dengan menggunakan termometer akan nampak bahwa suhu sebelum dan sesudah ditambah garam akan mengalami penurunan.

  1. Udara Mengandung Uap Air

Ketika membahas tentang korosi, kita mengatakan bahwa terjadinya korosi pada besi diakibatkan teroksidasi oksigen di udara. Namun sebenarnya tanpa adanya uap air di udara yang menyebabkan udara menjadi lembab, proses korosi tidak akan terjadi. Untuk membuktikan bahwa udara mengandung uap air adalah :

Isi kaleng dengan es batu, tambahkan secangkir air. Setelah permukaan luar kaleng mengembun, tambahkan 3 sendok garam ke dalam air es tersebut. Diamkan selama 5 – 10 menit. Nampak bahwa embun di luar kaleng itu membeku. Udara mengandung molekul air dalam bentuk gas, dan akan mendingin ketika bersentuhan dengan kaleng, sehingga berubah menjadi air (embun). Garam menurunkan suhu air es yang berakibat suhu kaleng turun dan membekukan embun yang ada di sekeliling kaleng.

  1. Keberadaan Zat Besi pada Buah-buahan

Untuk mengetahui adanya zat besi pada beberapa buah-buahan, seperti anggur, nanas, apel, arbei, dapat dilakukan percobaan sbb :

Siapkan jus buah-buahan yang akan diteliti, lalu tuangkan sedikit pada gelas bening. Tambahkan sejumlah yang sama teh kental yang telah didiamkan kira-kira 1 jam. Aduk dan biarkan sekitar 20 menit. Angkat dan lihat di dasar gelas, apakah ada endapan. Bila belum ada, biarkan lagi beberapa saat, dan lihat kembali dasar gelas. Endapan yang terbentuk merupakan zat besi yang terkandung dalam buah yang bereaksi dengan zat kimia dalam teh. Jumlah dan kecepatan terbentuknya endapan menandakan banyaknya zat besi di dalam buah tersebut.

  1. Koloid

Koloid merupakan campuran antara zat terdispersi dan zat pendispersi, dimana ukuran partikel terdispersinya lebih kecil dari suspensi tetapi lebih besar dari larutan. Percobaan tentang koloud dapat dilakukan sbb :

Isi gelas dengan susu segar, tambahkan 2 sendok makan cuka dan aduk. Biarkan 2 – 3 menit. Susu merupakan contoh koloid, adanya cuka yang ditambahkan ke dalamnya menyebabkan partikel terdispersi melekat satu sama lain membentuk benda padat yang disebut dadih yang berwarna putih, sehingga cairannya menjadi bening.

  1. Pelarut Organik Melarutkan Senyawa Organik

Alkohol adalah salah satu contoh pelarut organik (non polar) yang banyak digunakan untuk mengekstraksi senyawa organik (non polar) di laboratorium. Untuk membuktikan bahwa sifat pelarut non polar melarutkan senyawa non polar juga, dapat dilakukan sbb :

Letakkan sekitar 15 buah cengkeh ke dalam gelas, lalu tuangi dengan alkohol sampai merendam seluruh cengkeh. Tutup rapat, diamkan selama 7 hari. Setelah itu cobalah mengoleskan campuran tersebut di atas punggung tangan, biarkan sebentar, maka akan tercium bau wangi. Bau tersebut merupakan hasil pelarutan minyak berbau harum yang terkandung dalam cengkeh.

  1. pH Buffer

Untuk membuktikan fungsi ion fosfat dalam berbagai minuman bersoda sebagai buffer, maka dapat  dilakukan dengan cara percobaan sederhana, yaitu mengukur pH minuman bersoda tersebut sebelum dan sesudah ditambah sedikit asam, basa, maupun pengen-ceran. Jika benar bahwa minuman bersoda mengandung buffer fosfat, maka ketika ditambah sedikit asam, basa (hanya 1 mL), atau diencerkan (hanya 10 kali), maka harusnya tidak mengalami perubahan pH. Pengukuran pH awal / mula-mula dari buffer fosfat dilakukan setelah busa minuman tersebut hilang, sebab adanya busa menunjuk-kan bahwa asam karbonat (H2CO3) yang ada dalam minuman berubah menjadi H2O dan CO2.  Hal ini karena asam karbonat merupakan jenis asam tak stabil (mudah terurai), sehingga gas CO2 terlepas ke udara dan H2O tetap tinggal di minuman. Jadi, habisnya busa menunjukkan bahwa dalam minuman bersoda tersebut tinggal ada buffer fosfat.

  1. Uji Amilum

Untuk mengetahui ada tidaknya amilum dalam berbagai jenis makanan, dapat dilakukan dengan menggunakan larutan iodin atau lugol. Jika dihasilkan warna biru / ungu berarti sampel mengandung amilum.

  1. Penurunan Tekanan Uap

Untuk membandingkan penguapan larutan garam dengan air dapat dilakukan percobaan sederhana, yaitu memasukkan garam ke salah satu gelas yang berisi air dan dibanding-kan terhadap yang hanya berisi air. Masukkan ke dalam wadah tertutup dan simpan selama 1 hari lalu ukur volum yang ada. Ternyata setelah didiamkan 1 hari ternyata volum larutan pada gelas 1 yang berisi larutan garam tinggal  99 ml, sedangkan volum air pada gelas 2 tinggal 98 ml.

Demikianlah beberapa contoh praktikum yang berbasis penggunaan berbagai bahan dan alat yang ada di lingkungan, sehingga memungkinkan untuk dilakukan di sekolah dengan kondisi yang minim sekalipun. Harapannya, Bapak / Ibu Guru dapat mengembangkan lebih jauh berdasarkan contoh di atas.

mahabharat

kriteria ketuntasan minimal

Pada Kurikulum 2006 (yang dikenal dengan KTSP) kita telah mengetahui bersama bahwa sekolah harus menentukan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). KKM tersebut ditetapkan dengan aacuan tertentu dan tiapa mata pelajaran KKMnya bisa jadi berbeda-beda. KKM dtetapkan mulai dari yang rendah (misal 65) dan tiapa tahun ditingkatkan hingga mencapai KKM ideal nasional yaitu 75 atau bahkan lebih.

Yang menjadi permasalahan adalah KKM meningkat namun tidak dibarengi dengan kualitas pembelajaran, sehingga KKM 75 itu terkesan dipaksakan, artinya sebenarnya ada sekolah (tidak semua) yang sebenarnya belum waktunya KKM 75 dipaksakan menjadi 75. Apalagi nilai rapor menjadi unsur perhitungan kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Apa akibatnya? terjadilah apa yang kita sebut katrol nilai.

Sebenarnya KKM 75 itu tidak realistis? Alasannya seperti yang saya paparkan di atas bahwa secara empiris bahwa KKM 75 itu banyak sekolah yang belum siap, namun dipaksakan KKM 75. Di samping itu KKM 75 itu dengan KKM  di perguruan tinggi, di peguruan tinggi sebenarnya tidak ada istilah KKM, yang ada batas minimal kelulusan yang biasanya adalah C.

Mari kita perhatikan tabel konversi nilai skala 100 ke skala 4 atau ke dalam nilai huruf di beberapa perguruan tinggi di bawah ini

Tabel kon Banyak

Dari beberapa tabel di atas dapat disimpulkan bahwa batas minimal kelulusan adalah 55 atau 56. Nah sekarang kita bandingkan dengan batas minimal kelulusan di sekolah (KKM) yang besarnya 75, bukankah angka 75 ini tidak realistis. Sekarang kita bahas mengenai nilai di kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013 nilai dinyatakan dalam bentuk huruf seperti halnya di perguruan tinggi, namun lebih bervariasi, yaitu A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D+, dan D (terdapat variasi 10 nilai), dengan ketentuan batas miniimal kelulusan (ketuntasan) adalah B- atau 2,66, seperti tabel di bawah ini:

k1

Tabel penilaian tersebut terdapat di permendikbud no 81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, lampiran IV. Dengan ditetapkannya dalam dalam bentuk huruf maka diperlukan tabel konversi dari skala 100 ke skala 4 (dalam bentuk huruf). Untuk membuat tabel konversi ini di permendiknud tersebut belum ada pedomannya, sehingga sekolah membuat tabel konversi sendiri-sendiri yang bisa jadi berbeda tiap sekolah. Dengan batasas minimal ketuntasan B- atau 2,66 apakah sekarang KKM harus 75? saya pikir tidak harus. Untuk membuat tabel konversi itu bisa saja kita mengacu ke tabel yang ada di beberapa perguruan tinggi, karena sekarang menyatakan nilai dalam rapor (Laporan Capaian Kompetensi) sudah hampir sama dengan perguruan tinggi, yaitu dalam bentuk huruf.

Berikut ini contoh tabel konversi dari nila 0 – 100 menjadi 1 – 4 (dalam bentuk huruf)

K3

Tabel itu diperoleh ketika pelatihan pendampingan kurikulum 2013. Dari tabel itu batas minimal ketuntasan adalah 66. Apakah hanya seperti itu? Tentu saja tidak. Bisa saja seperti di bawah ini:

KonSmantan

Tabel ini batas minimal ketuntasannya juga 66, namun berbeda untuk nilai A dan A-. Lalu bagaimana dengan KKM 75? Kalau semula KKM 75 sekarang batas minimal ketuntasan 66 bukankah itu turun? ya memang turun. Namun menurut pendapat saya, sudahlah lupakan 75, karena 75 itu memaksakan diri.

kuri kurikulum 2013

Proses pembelajaran Kurikulum 2013, semua kegiatan yang terjadi selama belajar di sekolah dan di luar dalam kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler terjadi proses pembelajaran untuk mengembangkan moral dan perilaku yang terkait dengan sikap.

Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu:
a. mengamati;
b. menanya;
c. mengumpulkan informasi;
d. mengasosiasi; dan
e. mengkomunikasikan.

Hal yang penting dalam pembelajaran adalah materi yang disampaikan harus meliputi: data/fakta, konsep, prinsip, prosedur dan nilai sikap bagi peserta didik, maka seorang guru sangat perluuntuk menyusunya berupa RPP.

Beban Belajar Menurut Kurikulum 2013

Di dalam Kurikulum 2013, beban belajar setiap mata pelajaran pada SKS dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Beban belajar 1 sks terdiri dari 1 jam pembelajaran tatap muka, 1 jam penugasan terstruktur, dan 1 jam kegiatan mandiri.

Unsur-unsur Beban Belajar Menurut Kurikulum 2013

Adapun untuk unsur-unsur beban belajar yang sudah disebutkan di atas definisinya adalah sebagai berikut :

  1. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara siswa dengan guru.
  2. Kegiatan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh guru.
  3. Kegiatan mandiri adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaiannya diatur oleh siswa atas dasar kesepakatan dengan guru.

Cara Menetapkan Beban Belajar pada Kurikulum 2013

Adapun cara menetapkan  beban  belajar  dengan sistem kredit semester (sks)  untuk  SMP/MTs adalah sebagai berikut:

  1. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada SMP/MTs  berlangsung selama 40 menit;
  2. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri bagi siswa pada SMP/MTs maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

Harap diperhatikan saat melakukan penetapan beban belajar sks untuk SMP/MTs dilakukan dengan memadukan semua komponen beban belajar, baik untuk Sistem Paket maupun untuk SKS, sebagaimana yang tercantum dalam tabel berikut.

Tabel Penetapan Beban Belajar sks di SMP/MTs berdasarkan pada Sistem Paket
penetapan beban belajar siswa SMP dan MTs menurut SKS dan sistem paket
Berdasarkan pada tabel di atas dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa untuk menetapkan beban belajar 1 sks adalah dengan rumus berikut:
penentuan beban belajar 1 sks untuk SMP dan MTs berdasarkan Kurikulum 2013
Sehingga beban belajar sks untuk SMP/MTs dengan mengacu pada rumus tersebut dapat ditetapkan bahwa setiap pembelajaran dengan beban belajar 1 sks pada SKS sama dengan beban belajar 2 jam pembelajaran pada Sistem Paket. Agar lebih jelas lagi, dalam Tabel di bawah ini disajikan contoh konversi kedua jenis beban pembelajaran tersebut.
Tabel Contoh Konversi Beban Belajar
konversi beban belajar siswa smp dan mts untuk kurikulum 2013

Beban Belajar Minimal Menurut Kurikulum 2013

Agar proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan yang menggunakan SKS dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien maka harus ditentukan suatu batas minimal beban belajar sks yaitu sebagai berikut:
Beban belajar yang harus ditempuh oleh siswa SMP/MTs yaitu minimal 114 sks, yang dapat ditempuh paling cepat 2 tahun (4 semester) dan paling lama 5 tahun (10 semester).

Komposisi Beban Belajar Menurut Kurikulum 2013

Komposisi beban belajar di SMP/MTs adalah terdiri atas kelompok A (wajib) dan B (wajib) .

Kriteria Pengambilan Beban Belajar Menurut Kurikulum 2013

Kriteria yang digunakan dalam pengambilan beban belajar adalah sebagai berikut:

  1. Fleksibilitas dalam SKS yaitu siswa diberi keleluasaan untuk menentukan beban belajar pada setiap semester.
  2. Pengambilan beban belajar oleh siswa didampingi oleh Pembimbing Akademik.Kriteria yang digunakan untuk menentukan beban belajar bagi siswa yaitu: (a) pengambilan beban belajar (jumlah sks) semester berikutnya ditentukan berdasarkan Indeks Prestasi (IP) yang diperoleh pada semester sebelumnya; (b)Siswa wajib menyelesaikan mata pelajaran yang tertuang dalam Struktur Kurikulum; (c)Satuan pendidikan dapat mengatur penyajian mata pelajaran secara tuntas dengan prinsip ”on and off”, yaitu suatu mata pelajaran bisa diberikan hanya pada semester tertentu dengan mempertimbangkan ketuntasan kompetensi pada setiap semester.

Penilaian, Penentuan Indeks Prestasi, dan Kelulusan Menurut Kurikulum 2013

Pengaturan mengenai penilaian, penentuan indeks prestasi, dan kelulusan adalah sebagaimana diuraikan di bawah ini.
Penilaian    setiap  mata  pelajaran    meliputi    kompetensi pengetahuan,  kompetensi  keterampilan,  dan kompetensi sikap.    Kompetensi    pengetahuan    dan    kompetensi keterampilan  menggunakan  skala  1–4 (kelipatan  0.33), sedangkan kompetensi    sikap menggunakan    skala Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K), yang dapat dikonversi ke dalam Predikat A – D seperti pada Tabel di bawah ini.

Tabel Konversi Nilai
tabel konversi nilai pengetahuan keterampilan dan sikap menurut kurikulum 2013
Ketuntasan minimal untuk seluruh kompetensi dasar pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yaitu 2.66 (B-). Pencapaian minimal untuk kompetensi sikap adalah B.

Untuk kompetensi yang belum tuntas, kompetensi tersebut dituntaskan melalui pembelajaran remedial sebelum melanjutkan pada kompetensi berikutnya. Untuk mata pelajaran yang belum tuntas pada semester berjalan, dituntaskan melalui pembelajaran remedial sebelum memasuki semester berikutnya.

Penentuan Indeks Prestasi (IP) di SMP/MTs

IP merupakan rata-rata dari gabungan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yang masing-masing dihitung dengan rumus sebagai berikut:
rumus menentukan IP untuk SMP dan MTs berdasarkan kurikulum 2013
Keterangan:
IP : Indeks Prestasi
ΣN : Jumlah mata pelajaran
sks : Satuan kredit semester yang diambil untuk setiap mata pelajaran
Jumlah sks : jumlah sks dalam satu semester

Siswa pada semester 2 dan seterusnya dapat mengambil sejumlah mata pelajaran dengan jumlah sks berdasarkan IP semester sebelumnya dengan ketentuan sebagai berikut:
(1)IP < 2.66 dapat mengambil maksimal 20 sks. (2)IP 2.66 – 3.32 dapat mengambil maksimal 24 sks. (3)IP 3.33 – 3.65 dapat mengambil maksimal 28 sks. (4)IP > 3.65 dapat mengambil maksimal 32 sks. Selain itu, nilai kompetensi sikap paling rendah B.

Kelulusan Siswa SMP/MTs Menurut Kurikulum 2013

Siswa dapat memanfaatkan semester pendek hanya untuk mengulang mata pelajaran yang belum tuntas. Bagi yang sudah tuntas (mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah) tidak diperbolehkan untuk mengikuti semester pendek.

Kelulusan siswa dari satuan pendidikan yang menyelenggarakan SKS dapat dilakukan pada setiap akhir semester.

Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan di SMP/MTs setelah:

  • menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
  • memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran;
  • lulus ujian sekolah/madrasah; dan
  • lulus Ujian Nasional.

Semoga bermanfaat

bunyi

Bunyi dihubungkan dengan indera pendengaran kita, dan berarti juga dengan fisiologi telinga dan fisiologi otak yang menerjemahkan sensasi yang mencapai telinga. Istilah bunyi juga berhubungan dengan sensasi fisik yang merangsang telinga kita, yaitu : Gelombang Longitudinal.

Kita dapat membedakan tiga aspek / syarat terjadinya bunyi; yaitu :

Pertama, pasti ada sumber bunyi; dan seperti halnya dengan semua gelombang, sumber gelombang bunyi merupakan benda yang bergetar.

Kedua, energi yang dipindahkan dari sumber dalam bentuk gelombang bunyi longitudinal. Dan

ketiga, bunyi dideteksi oleh telinga atau sebuah alat.

Ada dua aspek dari setiap bunyi yang dirasakan oleh pendengaran manusia mendengar. Aspek ini adalah ”Kenyaringan” dan ”Ketinggian”, dan masing-masing menyatakan sensasi subyektif. Kenyaringan berhubungan dengan energi  pada gelombang bunyi. Dan Ketinggian bunyi menyatakan apakah bunyi tersebut tinggi, seperti bunyi suling atau biola, atau rendah, seperti bunyi bass drum atau senar bass. Atau dengan kata lain Ketinggian merupakan Intensitas Gelombang. Intensitas didefinisikan sebagai energi yang dibawa sebuah gelombang per satuan waktu melalui satuan luas dan sebanding dengan kuadrat amplitudo gelombang. Karena energi per satuan waktu adalah daya, intensitas memiliki satuan daya per satuan luas atau watt/meter2 (W/m2).

2. Sifat-sifat Bunyi.

Bunyi ditimbulkan oleh benda yang bergetar, dan dirambatkan berupa rapatan dan renggangan molekul‑molekul medium yang dilaluinya. Tanpa medium (hampa/vakum), bunyi tak dapat merambat. Gelombang bunyi termasuk gelombang longitudinal. Bunyi hanya dapat didengar jika ada penerima yang berada di dekat atau dalam jangkauan sumber bunyi.

Syarat‑syarat untuk terjadi dan terdengarnya bunyi antara lain:

  1. Ada benda yang bergetar (sumber bunyi).
  2. Ada zat antara (medium) tempat merainbat­ nya bunyi.
  3. Ada penerima yang berada di dekat atau dalam jangkauan sumber bunyi.

 

3.  Cepat Rambat Bunyi.

3.1. Definisi

Cepat rambat bunyididefinisikan sebagai hasil bagi antara jarak sumber bunyi ke pendengar dan selang waktu yang dibutuhkan bunyi untuk merambat sampai ke pendengar. Secara matematis :

Dengan v = cepat rambat bunyi (m/s), s = jarak sumber bunyi ke pendengar (m), dan   t = selang waktu yang diperlukan bunyi untuk merambat sampai ke pendengar (s). Seperti halnya berlaku untuk gelombang lain, pada gelombang bunyi pun berlaku rumus :

dengan v = cepat rambat bunyi (m/s), λ = panjang gelombang bunyi (m), dan f = frekuensi bunyi (Hz).

2.2. Pengaruh Suhu Pada Cepat Rambat Bunyi

Cepat rambat bunyi bergantung pada suhu udara. Semakin tinggi suhu udara, semakin besar cepat rambat bunyi, atau semakin rendah suhu udara, semakin kecil cepat rambat bunyi. Dalam hal ini berlaku rumus:

dengan V = cepat rambat bunyi pada suhu T 0C, V0 = cepat rambat bunyi pada suhu 0 0C, dan T = suhu udara (0C).

3.3. Perambatan Bunyi Pada Berbagai Zat

Bunyi dapat merambat pada zat padat, zat cair, dan gas. Bunyi merambat paling baik dalam zat padat dan paling buruk dalam gas. Hal ini disebabkan, dalam padatan jarak antar partikelnya sangat berdekatan sehingga energi yang dibawa oleh getaran mudah dipindahkan dari satu partikel ke partikel lainnya.

4. Audiosonik, Infrasonik, Ultrasonik dan Ultrasonik.

Audiosonik adalah bunyi yang frekuensinya berkisar antara 20 Hz – 20.000 Hz. Infrasonik adalah bunyi yang frekuensinya di bawah 20 Hz. Ultrasonik adalah bunyi yang frekuensinya di atas 20.000 Hz. Manusia hanya dapat mendengar audio­ sonik. Infrasonik dapat didengar oleh jangkrik dan anjing, sedangkan ultrasonik dapat di dengar oleh kelelawar dan juga anjing. Ultrasonik digunakan oleh manusia di antaranya untuk kacamata tunanetra, mengukur kedalaman laut, dan ultrasonografi (USG).

5. Nada Bunyi, Kuat Bunyi dan Warna Bunyi.

5.1. Nada dan Desah

Nadaadalah bunyi yang frekuensinya tetap. Desahadalah bunyi yang frekuensinya tidak teratur. Nada bunyi bergantung pada frekuensi sumber bunyi. Semakin tinggi frekuensi sumber bunyi, semakin tinggi nada bunyi yang dihasilkannya. Sebaliknya, semakin rendah frekuensi sumber bunyi, semakin rendah nada bunyi yang dihasilkannya.

5.2. Kuat Bunyi

Kuat Bunyi (Intensitas Bunyi)adalah keras atau lemahnya bunyi yang terdengar. Kuat bunyi bergantung pada amplitudo. Semakin besar amplitudo getaran sumber bunyi, semakin keras bunyi yang dihasilkan. Sebaliknya, semakin kecil amplitudo getaran sumber bunyi, semakin lemah bunyi yang dihasilkannya. Telinga manusia dapat mendeteksi bunyi dengan intensitas serendah 10-12 W/m2 dan setinggi 1 W/m2. Tingkat Intensitas, β, dari bunyi didefinisikan dalam intensitasnya, I, sebagai berikut :

(dalam dB)

dimana I0 adalah intensitas tingkat acuan, dan logaritma adalah dari basis 10. I0 biasanya diambil dari intensitas minimum yang dapt didengar manusia (ambang pendengaran).

5.3. Kualitas Bunyi atau Timbre

Umumnya, sumber nada tidak bergetar hanya pada nada dasarnya, tetapi disertai pula oleh nada‑nada atasnya. Gabungan nada dasar dan nada‑nada atas menghasilkan bentuk gelombang tertentu untuk setiap sumber nada yang menunjukkan kualitas bunyi atau timbre dari sumber nada. Sebagai contoh, nada suling dan nada terompet pada frekuensi yang dibedakan bunyinya.

  1. 5. Hukum Marsene.

Menurut Marsenne, faktor‑faktor yang mempengaruhi frekuensi alamiah sebuah senar, dawai, atau kawat adalah sebagai berikut:

  1. panjang senar; semakin panjang senarnya, semakin rendah frekuensinya;
  2. luas penampang senar; semakin tebal senarnya, semakin rendah frekuensinya;
  3. tegangan senar; semakin tegang (ken­cang) senarnya, semakin tinggi fre­kuensinya;
  4. massa jenis senar; semakin kecil massa jenis senar, semakin tinggi frekuensinya.

 

6. Resonansi.

Resonansi adalah ikut bergetarnya suatu benda bila benda lain digetarkan di dekatnya. Resonansi terjadi apabila frekuensi benda yang bergetar sama dengan frekuensi alami benda yang ikut bergetar. Bila sebuah garputala digetarkan di atas tabung berisi kolom udara, udara pada tabung akan beresonansi apabila panjang kolom udara dalam tabung merupakan bilangan ganjil kali panjang gelombang. Secara matematis di­ tuliskan:

l = (bilangan ganjil) x ½ λ

dengan l = panjang kolom udara dalam tabung (m) dan λ = panjang gelombang bunyi (m).

8. pemantulan Bunyi.

Bunyi akan dipantulkan apabila mengenai permukaan‑permukaan keras.

8.1. Hukum Pemantulan Bunyi

Bunyi hukum pernantulan bunyi sebagai ber­ikut

  1. Bunyi datang, garis normal, dan bunyi pantul terletak pada satu bidang dan berpotongan di satu titik.
  2. Sudut datang sama dengan sudut pantul.

8.2. Manfaat Pemantulan Bunyi

Pemantulan bunyi dapat dimanfaatkan antara lain untuk :

  1. menentukan cepat rambat bunyi di udara,
  2. melakukan survei geofisika untuk men­deteksi lapisan‑lapisan batuan yang mengandung minyak bumi, mendeteksi cacat dan retak pada logam, dan,
  3. mengukur ketebalan pelat logam.

8.3. Macam‑macam Bunyi Pantul

  1. Bunyi pantul yang memperkuat bunyi asli, terjadi jika jarak antara sumber bunyi dan bidang pemantul sangat dekat sehingga bunyi pantul bersamaan waktunya dengan bunyi asli.
  2. Gaung atau kerdam, yaitu bunyi pantul yang sebagian bersamaan dengan bunyi aslinya sehingga bunyi asli menjadi tidak jelas.
  3. Gema, yaitu bunyi pantul yang terdengar setelah bunyi asli selesai diucapkan/ dibunyikan.

 

9. Efek Doppler.

Efek Doppler adalah efek berubahnya frekuensi yang terdengar oleh pendengar karena gerak sumber bunyi atau pendengar. Jika sumber bunyi mendekati pendengar, maka pendengar akan menerima getaran yang lebih banyak sehingga frekuensi bunyi lebih tinggi. Sebalik­nya, jika sumber bunyi menjauhi pendengar, pendengar akan menerima getaran lebih sedikit sehingga frekuensi bunyi lebih rendah, tetapi frekuensi asal tidak berubah.

 

Contoh Soal :

  1. Bagaimana bunyi dapat terjadi ?. (Jawab) Bunyi ditimbulkan oleh benda yang bergetar, getaran ini merambat melalui udara dan sampai ke telinga kita.
  2. Bunyi merambat di udara berupa ……..
    1. a.      Rapatan dan renggangan
    2. b.      Bukit dan lembah gelombang
    3. c.      Gelombang transversal
    4. d.      Puncak dan rapatan

(Jawab : A) Bnyi merambat di udara berupa rapatan dan renggangan. Jadi bunyi termasuk gelombang longitudinal.

  1. Gelombang bunyi tidak dapat merambat dalam ……..
    1. a.      Zat padat
    2. b.      Zat cair
    3. c.      Udara
    4. d.      Ruang hampa

(Jawab : D) Bunyi termasuk gelombang mekanik sehingga memerlukan medium untuk perambatannya. Medium perambatan bunyi bisa berupa zat padat, zat cair, dan gas (udara). Jadi bunyi tidak dapat merambat di runag hampa.

  1. Bunyi petir terdengar 1,5 detik setelah kilatan cahaya terlihat. Jika cepat rambat bunyi di udara 340 m/s dan kecepatan cahaya di udara 3 x 108 m/s. Dapat diperkirakan berapa jarak sumber petir ke pengamat ?. (Jawab) Dari soal diketahui : waktu yang diperlukan bunyi petir untuk merambat t = 1,5 detik, cepat rambat bunyi di udara v = 340 m/s. Hati-hati jangan menggunakan kecepatan cahaya 3 x 108 m/s untuk menghitung jarak sumber bunyi ke pengamat. Jadi, s = v x t

= (340 m/s) x 1,5 detik)

= 510 m

  1. Pada jarak 750 meter dari pengamat, seseorang memukul kentongan. Jika bunyi kentongan baru terdengar 1,5 detik setelah pemukul mengenai kentongan, maka cepat rambat bunyi adalah :

a. 375 m/s                    c. 875 m/s

b. 500 m/s                    d. 1.125 m/s

(Jawab : B) Dari soal diketahui jarak (s) = 750 m; waktu (t) = 1,5 detik. Maka cepat rambat bunyi (v) adalah : v = s/t = 750 m/ 1,5 detik = 500 m/s.

  1. Perhatikan pernyataan berikut :
    1. Tinggi kolom udara kelipata ganjil dari ¼ λ
    2. Tinggi kolom udara kelipata ganjil dari 3/4 λ
    3. Frekuensi benda sama dengan frekuensi sumber bunyi
    4. Frekuensi benda tidak sama dengan frekuensi sumber bunyi

Syarat-syarat terjadinya resonansi bunyi sesuai dengan pernyataan nomor :

a. 1 dan 3        c. 2 dan 3

b. 1 dan 4        d. 2 dan 4

(Jawab : A) Syarat terjadinya resonansi antara lain :

  1. Frekuensi sumber bunyi atau sumber getaran sama dengan frekuensi benda.
  2. Ruang udara yang tingginya kelipatan ganjil dari panjang gelombang yang bergetar akan terjadi resonansi.

Rangkuman :

  1. Bunyi merambat sebagai gelombang longitudinal di udara dan materi lain. Di udara, laju bunyi bertambah terhadap temperatur.
  2. Ketinggian nada bunyi bergantung pada frekuensi sumber bunyi. Semakin tinggi frekuensi sumber bunyi, semakin tinggi nada bunyi yang dihasilkannya. Sebaliknya, semakin rendah frekuensi sumber bunyi, semakin rendah nada bunyi yang dihasilkannya.
  3. Jangkauan pendengaran dari frekuensi untuk manusia sekitar 20 sampai 20.000 Hz    (1 Hz = 1 siklus per detik).
  4. Efek Doppler adalah efek berubahnya frekuensi yang terdengar oleh pendengar karena gerak sumber bunyi atau pendengar. Jika sumber bunyi mendekati pendengar, maka pendengar akan menerima getaran yang lebih banyak sehingga frekuensi bunyi lebih tinggi dan sebalik­nya.

 

 

 

arem4ni4.wordpress

hidrokarbon

Apersepsi Pernahkah Anda melihat intan? Intan merupakan salah satu batu mulia. Intan dapat diolah menjadi berlian yang sangat indah. Tidak heran jika berlian banyak digunakan sebagai perhiasan. Bukan hanya itu, intan juga dapat digunakan sebagai mata bor karena sifatnya yang keras dan tidak mudah patah. Intan hanyalah satu contoh senyawa karbon. Selain intan, masih banyak senyawa karbon lainnya. Jumlahnya mencapai lebih dari 10 juta. Atom karbon dapat berikatan dengan banyak atom lain. Senyawa hidrokarbon sangat banyak ditemukan di alam. Bensin, solar, minyak tanah, lilin, karbohidrat, dan lemak merupakan contoh senyawa-senyawa hidrokarbon

 
Grafit dan Bentuk Molekulnya
 
Intan dan Bentuk Molekulnya
 

Mata Bor Hitam

 
Bensin

MENGENAL SENYAWA HIDROKARBON 

Senyawa Karbon

Karl Wilhelm Scheele

Pada tahun 1780, seorang bernama Karl Wilhelm Scheele (1742 – 1786) membedakan senyawa menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Senyawa organik, adalah senyawa yang dihasilkan oleh makhluk hidup. 
  2. Senyawa anorganik, adalah senyawa yang dihasilkan oleh benda mati.
 
Jons Jacob Berzelius

Tahun 1807, Jons Jacob Berzelius (1779 – 1848) menyatakan teori vis vitalis, yaitu bahwa senyawa-senyawa organik hanya dapat dibuat di dalam tubuh makhluk hidup dengan bantuan daya hidup (vis vitalis),sehingga menurutnya tidak mungkin senyawa organik dibuat di laboratorium dengan menggunakan bahan senyawa anorganik.

Friederich Wohler
    Friederich Wohler (1800 – 1882) yang juga murid Berzelius berhasil menumbangkan teori sebelumnya, setelah dia berhasil menyintesis senyawa organik. Senyawa tersebut adalah urea (yang biasa dihasilkan dari urine makhluk hidup) dengan menggunakan zat anorganik, yaitu dengan mereaksikan perak sianat dengan amonium klorida membentuk amonium sianat. 

Mengidentifikasi Atom Karbon

     Jika Anda membeli roti bakar, biasanya terbentuk kerak hitam di permukaan roti. Apakah yang menyebabkan timbulnya kerak tersebut?. Kerak hitam pada roti bakar tersebut mengandung atom karbon. Hal ini disebabkan pada pembakaran tidak sempurna akan menghasilkan arang atau karbon, sedangkan pembakaran sempurna akan menghasilkkan CO2.
Roti Bakar mengandung Karbon
Arang merupakan Karbon
Sate Bakar

Uji Senyawa Karbon

  •   Uji Air Kapur
        Bertujuan untuk menguji keberadaan gas CO2. Adanya gas CO2 berarti menunjukkan bahwa senyawa tersebut mengandung C dan O. Uji air kapur dilakukan dengan cara melewatkan gas CO2 yang terbentuk ke dalam larutan kapur. Dapat dilakukan melalui percobaan sederhana.
Salah satu metodenya adalah dengan menggunakan lilin (C20H42) yang direaksikan dengan oksigen dari udara (dibakar), hasil pembakaran lilin dilewatkan ke dalam larutan Ca(OH)2 1%, seperti ditunjukkan pada Gambar

Gambar Pengujian Atom Karbon
Gambar  Identifikasi karbon dan hidrogen menggunakan metode pembakaran lilin.
             Ketika lilin terbakar terjadi reaksi antara lilin dan oksigen dari udara. Jika pembakarannya sempurna, terjadi reaksi:
2C20H42(s) + 61O2(g) →40CO2(g) + 42H2O(g)
            Gas CO2 dan uap air hasil pembakaran akan mengalir melalui saluran menuju larutan Ca(OH)2. Bukti adanya CO2 ditunjukkan oleh larutan menjadi keruh atau terbentuk endapan putih dari CaCO3 (perhatikan Gambar). Persamaan reaksinya:
CO2(g) + Ca(OH)2(aq) →CaCO3(s) + H2O(l).

  • Uji kertas kobalt 

           Digunakan untuk menguji adanya H2O. Adanya H2O berarti menunjukkan adanya unsur H dan O. Pengujian menggunakan kertas kobalt ini dilakukan dengan cara menyentuhkan kertas kobalt kepada uap air hasil pembakaran senyawa karbon. Jika

bereaksi dengan uap air, kertas kobalt yang berwarna biru akan berubah warna menjadi merah jambu.
Kertas kobalt + Uap air   →    Kertas kobalt
(biru)                                       (merah jambu)
Kertas Kobalt
KEKHASAN ATOM KARBON
         Dimuka bumi telah dijelaskan bahwa senyawa organik tersusun atas unsur karbon. Sekarang ini ,jumlah senyawa karbon mencapai puluhan juta, jauh lebih banyak dibandingkan senyawa anorganik yang hanya berjumlah ratusan ribu. ( Hidayat,2010 ) . Senyawa karbon yang cukup banyak ini,terkait dengan adanya kekhasan atom karbon dibandingkan dengan atom karbon lain ,yaitu :
  •   Atom Karbon Memiliki 4 Elektron Valensi yang kuat dan stabil
        Berdasarkan konfigurasi keenam elektron yang dimiliki atom karbon didapatkan bahwa elektron valensi yang dimilikinya adalah 4. Untuk mencapai kestabilan, atom ini masih membutuhkan 4 elektron lagi dengan cara berikatan kovalen.
  • Atom Unsur Karbon Relatif Kecil
    Ditinjau dari konfigurasi elektronnya, dapat diketahui bahwa atom karbon terletak pada periode 2, yang berarti atom ini mempunyai 2 kulit atom, sehingga jari-jari atomnya relatif kecil. Hal ini menyebabkan ikatan kovalen yang dibentuk relatif kuat dan dapat membentuk ikatan kovalen rangkap.
  •  Atom Karbon dapat membentuk rantai karbon

Jarak antara valensi atom karbon relatife dekat dengan inti atomnya. Ini menyebabkan atom karbon sangat mudah bereaksi dengan atom karbon lainnya memberntuk rantai karbon yang bereaksi .Keadaan atom karbon yang demikian menyebabkan atom karbon dapat membentuk rantai karbon yang sangat panjang dengan ikatan kovalen. Selain itu dapat pula membentuk rantai lingkar (siklik).

  • Kedudukan atom karbon dalam rantai karbon berbeda.
      Berdasarkan jumlah atom C yang diikat, atom C dapat dibedakan menjadi:
a. Atom C primer
b. Atom C sekunder
c. Atom C tersier
d. Atom C kuartener

Penjelasan
  • Atom karbon primer (dilambangkan dengan 10) adalah Atom karbon yang berikatan dengan satu atom karbon yang lainnya.
Contoh :
Dalam molekul etana (CH3-CH3) masing-masing atom karbon mengikat satu atom karbon tetangga. Oleh karena itu, dalam molekul etana terdapat dua atom C primer.
  • Atom karbon sekunder (dilambangkan dengan 20) adalah Atom karbon yang berikatan dengan dua atom karbon yang lainnya.
Contoh :
Dalam molekul propana (CH3-CH2-CH3) atom karbon pada posisi kedua mengikat dua atom karbon tetangga. Oleh karena itu, dalam molekul propana terdapat satu atom C sekunder.
  • Atom karbon tersier (dilambangkan dengan 30) adalah Atom karbon yang berikatan dengan tiga atom karbon lainnya.
Contoh :
CH3 dalam molekul isobutana (CH3-CH-CH3) atom karbon pada posisi kedua mengikat tiga atom karbon lainnya. Oleh karena itu, dalam molekul isobutana terdapat satu atom C tersier.
  • Aton C kuertener (dilambangkan dengan 40) adalah Atom C yang berikatan dengan empat atom C yang lain.
Atom C kuartener (40)
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.